Sunday, November 30, 2014

Fanita

Nama wanita itu bernama Fanita, usia nya sudah menginjak umur 25. Wajahnya cantik jelita berkulit putih seperti kulit gadis Eropa. Matanya syahdu, hidungnya bangir, rambutnya terurai kebawah hingga kebahu. Ada satu yang paling menonjol berbeda dibagian wajahnya yaitu dagunya yang berbelah seperti angelina jolie. Ah....

Sangat disayangkan untuk dilewatkan momen tersebut didepan mata. Akan sangat disayangkan apabila hanya melihat sesekali. Kamu akan tergila-gila padanya apabila melihat dia berkali-kali. Apalagi jika Fanita tersebut tersenyum sesekali.. Lesung pipitnya akan tampil mempesonamu disela-sela pipi kiri.

Fanita masih tergeletak dikasur setelah operasi tadi pagi. Wajahnya tentu saja masih cantik dikelilingi bantal guling kasur yang berwarna putih. Hanya operasi ringan dibagian dada, tidak membuatnya kehilangan kecantikan paras wajahnya.

Aku menatap wajahnya untuk sekali lagi sebelum meninggalkan ruang kamar rumah sakit. Sesekali dia memperlihatkan senyum kepada para tamu yang mengunjungi. Aku ambil peralatan bersih-bersih yang kugunakan untuk membersihkan kamar Fanita karena tuntutan profesiku sebagai cleaning service rumah sakit ini.

Kamu tidak perlu menatap wajahku fani, akan kuceritakan tentang kamu melalui surat ini kepada seluruh anak negeri.

Waktu

Waktu itu berlalu bulan demi bulan begitu terasa. Sempat beberapa minggu lalu terasa sesak didada, berharap kucuran dana dari Sang Pencipta jatuh kebumi begitu saja.

Sempat kuragu apa semua ini akan berlalu. Tiupan topan sangat kencang melahap seluruh lapisan kulitku yang berwarna coklat. Panas matahari menyengat lapisan luar bulu romaku. Membuatku semakin hitam kelam dan jatuh kedalam larutan kehidupan yang bernama larangan.

Aku mau pergi, pergi jauh kelangit ketujuh. Berharap akhir sebuah kata surga.

Tapi jalan itu masih panjang. Bulan demi bulan berganti menjadi minggu demi minggu, hari demi hari. Sesak sesak harus dilalui, dengan senyuman lantang, suara teriak, wajah berontak.

Terdiam ku duduk sesaat. Ditelinga kiriku aku mendengar suara berujar "Ayo semangat kawan. Apapun yang menerpamu, aku akan selalu disisimu". Sementara ditelinga kananku terdengar "Sudah berakhir kawan, cepat hampiriku".

Kuharap tiada suara-suara tersebut menganggu. Fana,.. hilang... 

Monday, November 03, 2014

Jam 5 sore

Hiruk pikuk jalan raya didepan Mall Ambasador dan ITC Kuningan mulai ramai, seramai-ramainya lautan kendaraan dan manusia-manusianya apabila mendekati jam 5 sore waktu Indonesia bagian Jakarta Selatan. Mulai dari supir-supir angkot, mikrolet hingga bus AC berebut penumpang yang semenjak pukul 4 sore rela berjumpalitan hanya untuk mendapatkan tempat duduk jok yang keras. Itupun apabila kendaraan sesak, panas-panasan dan dempet-dempatan merupakan kepastian. Ya tentu saja enak ya apabila sebelah kita itu Luna Maya atau Ariel vokalis Peterpan (sekarang NOAH, red) tentu saja saya dan kamu toh akan rela bersumpek-sumpekan :).

Tidak kalah dengan kendaraan umum, mobil-mobil pribadi yang berparkir sedari pagi di kawasan Mega Kuningan dan HR. Rasuna Said sudah siap landas begitu mendengar suara lonceng jam 5 sore berdentang. Arah Casablanca jam segitu sudah pasti padat merayap. Begitu juga arah Sudirman. Ditambah lagi mobil yang akan melalui Jl. MH. Thamrin dan Jl. Sudirman akan terkena three in one, jadilah para nebengers alias joki three in one sudah siap melambaikan tangannya mencegat semua mobil yang berpenumpang satu ataupun dua orang saja. Menambahan kepenatan suasana jam 5.

Ini adalah tampilan sehari-hari kawasan Mega Kuningan didepan Mall Ambasador. Maklum ini Jakarta bung, sudah sejak dulu memang seperti itu. Tak usah khawatir akan presiden yang baru, kota ini sedari dulu sudah berjalan otomatis praktis tanpa kamu ada disisiku, iya kamuuu... :).

Dari sekian orang terdapatlah Radit, seorang wanita pekerja keras disalah satu perbankan Mega Kuningan dan berkantor tepat diseberang ITC kuningan. Kantornya sih megah nian hingga kelantai 28. Tapi gajinya?, kembang kempis setiap tanggal 28, karena akan habis untuk biaya bulanan. Cicilan biaya untuk anak, hingga cicilan untuk pakaian.

Radit menghirup nafas dalam-dalam begitu jam tangan menunjuk angka 5 sore. Ini saatnya bermacet-macetan bagi dia. Dia hanya satu diantara ribuan manusia yang akan melewati jalan Casablanca setiap harinya. Jangan tanya pulangnya bagaimana?, Helikopter atau Pesawat?, ah jangan menghayal kamu para pembaca. Radit ini hanya menggunakan motor roda dua untuk pulang pergi dari Depok menuju kantornya. Jauh?, ah sudah biasa bagi dia. Untung motornya matic, kalau tidak, tentu betisnya sudah tidak berkutik.

Semestinya Radit ini minimal naik Taksi pulangnya loh, minimal disupiri supir pribadi sekelas silver bird. Ini karena wajah Radit yang cantik, wajahnya tidak pas-pas an untuk wanita seumuran 35-an. Hidung mancung, mata hitam tajam dan rambutnya yang gemulai seperti iklan shampo merek Emeron dengan tag line "emeron.. emeron.. emeron gaya rambut.. kaya pesona....".

Sungguh sangat disayangkan apabila dia naik motor, sudah pasti rambutnya yang panjang akan rusak berteriak apabila terkena asap knalpot ibukota. Dan tidak lucu apabila asap hitam itu menjadi make up raut mukanya yang mempesona, pasti jadi anggota serial TV ukauka. Toh mau bagaimanapun juga, untuk kesekian kalinya Radit harus menghadapinya. Tidak masalah senin atau selasa, hari minggu atau hari ungu, hari galau atau unyu... apabila jam menunjukkan pukul 5, jalanan semacet apapun siap dijabaninya.

Dinyalakan motor roda duanya itu di area parkir basement 3. Motor itu hasil keringatnya sendiri selama 5 tahun bekerja di salon wanita ternama di Kemang. Suaminya sama sekali tidak membantu untuk membeli motor tersebut, bahkan sepeser pun. Yang ada cerita, setiap pengasilan suaminya Radit hanya digunakan oleh suaminya itu untuk berkaraoke dan menjaja berbagai wanita di kawasan Kota. Oh banyak juga cobaan hidupmu Radit, selain kemacetan jalan raya, kamupun harus menghadapi masalah keluarga.

Brmm.. brmm... motor Radit jalan perlahan menuju pintu karcis. Tapi perlahannya tersebut tidak bermanfaat, hanya sepersekian detik siap melesat pintu keluar, motornya yang baru keluar pintu karcis, tiba-tiba disalip oleh anak muda dari arah samping pintu keluar. Hampir saja Radit terjerembab, untung dia stabil memegangi stang motornya, apabila tidak, tentu Radit sudah terjatuh terguling-guling tanpa permisi. Emosi Radit terbangkit seketika, entah itu karena masalah keluarga atau masalah jam 5, yang pasti dia sudah menggeber motor-nya dengan sekuat tenaga akibat kejadian itu. Motor anak muda yang tadi mengagetkan itu adalah Yamaha RX-King, motornya para pekerja tukang ojeg, yang pasti bukan motor Kamen Raider so pasti lah ya. Anak muda menuju arah tanah abang bukan casablanca, arah kebalikan dari jalur pulang Radit. Ah Radit tidak mau tau, mau itu anak muda or nyai-nyai, mau arah surabaya atau madura, dia sudah menyebabkan dirinya bisa-bisa celaka karena muncul begitu saja di pintu keluar tadi.

Radit yang bermotorkan Yamaha Mio, selalu berkeyakinan dialah yang terdepan, segera dipacu motornya menuju tanah abang, meski itu bukan arah rumahnya yang semestinya harus melewati casablanca menuju depok, iya tidak peduli, nafsu emosi sudah diubun-ubun.

Anak muda itu tidak tau kalau ada yang membuntuti. Didalam pikirannya ia hanya menyerempet sana sini, demi menuju rumahnya di tanah abang.

Lupakan detailnya bagaimana.. Akhirnya posisi pada saat itu Radit berhasil berjajaran dengan anak muda, bak pahlawan bertopeng, Radit segera membuka helm nya, rambutnya Emeron nya terurai seperti bendera berkibar. Tanpa banyak babibu.. langsung saja ditimpanya helm tersebut tepat kebagian kanan kepala anak muda tersebut. Anak muda itu kaget terpental hingga terjerembab menuju bak sampah yang berada dipinggir jalan raya, lalu terpungkur menuju tanah.

Sungguh kejam, tapi sangat perhitungan. "Rasain, biar tau rasa" ........ ujar Radit...

Jam 5 sore... Jakarta menyimpan segala kekesalan terpendam berbagai penghuninya. Seorang wanita pun sanggup melupakan rasa...


Jakarta, 3 November 2014
Menara Kadin








Warna Warni Hidup Baru

Gerombolan putih itu menuju ruangan besar menyerupai langit langit...

Langit ruangan berwarna cerah tapi merah, merah seperti darah. Berdegup-degup kencang setiap detik... Sempat beberapa kali terdengar dentuman suara bergema seperti bunyi raksasa yang hendak bangun dari tidurnya....

Sebaliknya.. Gerombolan putih, tidak berwarna, hanya berwujud seperti bola voli. Ah putih kan itu hanya rupa warna, putihnya mereka tidak seperti putih biasa, menyerupai warna air, transparan, jernih, yang apabila disinari oleh matahari akan terpantul gambar pelangi. Merah, kuning, hijau dilangit yang biru..

Perlahan-lahan.. Mereka kini berjumpa, berdua... bagaikan magnet yang bersatu kutub minus dan plus... gerombolan putih mulai menyatu satu persatu dengan langit merah... menempel, merayap hingga mereka berubah warna menjadi jingga..

Hanya jingga...

9 bulan lamanya akhirnya berakhir.. Kini mereka hidup menjadi satu.. menjadi bayi.. yang bernama sadhu...

Tuesday, October 14, 2014

Riverstone City

"Beep.. beep... tring.. tring..." smartphone Kencana berbunyi untuk yang kedua kalinya.. Kencana ketika itu tidak mendengar bunyi yang pertama karena sedang berada dikantin basement kantornya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Dia sedang asik berbicara mengenai politik dengan rekan sejawatnya, sembari menghisap sebatang rokok sampoerna.
Pada bunyi yang kedua, Kencana mulai mendengar ada bunyi dari saku celananya yang berwarna biru muda. Dirogoh saku itu menggunakan tangan kanan dan dilihat dilayar smartphone terdapat gambar wanita yang muncul. Dalam hati kencana berkomentar "Tumben nih dia telpon, ada apa ya?"... Kencana pamit sebentar pada rekan-rekan dikantin sembari berlagak ada telpon penting seperti tidak ada lagi bunyi telpon yang lebih penting sepanjang hidupnya. Dijawabnya panggilan telpon itu

"Hai hai.. Amanda.. kemana aja lo?"
"Hoi Kenca, lagi dimana?"..

Kedua pihak malah saling mengeluarkan kalimat tanya.

"Gw di Menteng nih seperti biasa, Gila lo.. kemaren kemaren kemana aja, sombong ya whatsapp gak dibales, udah berapa bulan nih menghilang?"..
"Gw baru balik dari LA.. sekarang lagi di Jakarta nih.. Lo main kesini donk?"
"Dimana sekarang tinggalnya?, hayuk ngopi2!.."
"Gw tinggal di Riverstone City sekarang, nonton yuk"
"Wah Riverstone?, tempat perumahan elit itu?, dari kapan pindahnya?"
"Hahaha, biasa aja ah, elit dari Hongkong.., iya iya nanti gw ceritain ya klo kita ketemu"
"Oke bentar lagi jam kantor gw beres jam 4 sore.. nanti gw kabarin klo jadi kesana ya, mudah-mudahan gak ada lembur dari bos.."
"Haha giliran ketemu aja langsung cepat tanggap"
"Heheh"...

Wanita itu bernama Amanda. Teman lama Kencana. Mereka pertama kali bertemu di Maskapai penerbangan Garuda tujuan Jakarta - Melbourne. Ketika itu Kencana sedang ada perjalanan dinas dari kantor, dan Amanda adalah salah satu pramugarinya. Kencana dengan percaya dirinya memperkenalkan dirinya sendiri kebeberapa pramugari dan pramugara yang sedang mempersiapkan menu makan pagi di area box dekat cock pit. Akhir cerita, Kencana mendapatkan pin blackberry salah satu pramugari tercantiknya, siapa lagi kalau bukan Amanda.

Kisah pertemanan mereka berlanjut melalui blackberry, sempat bertemu beberapa kali di Jakarta dan akhirnya tidak bertemu lagi karena Amanda setelah resign dari Garuda dia mengikuti jejak kedua orang tuanya yang bekerja di kedutaan Indonesia di USA. Sementara itu Kencana tenggelam sendiri dalam pekerjaannya dibidang pelayaran dan logistik.

Sampai suatu ketika mereka bertemu lagi beberapa bulan lalu. Pertemuan yang singkat dibilangan Sudirman, Jakarta Selatan. Saat itu Amanda sudah berstatus suami orang. Sementara Kencana berstatus duda tanpa anak. Mereka berjumpa di liberica coffee, Pacific Place. Kaget bercampur senang wajah Kencana ketika melihat Amanda dengan tampilan barunya, rambut bergelombang panjang hitam, memakai dress serba hitam. Kaget ketika tahu Amanda sudah berstatus suami orang. Apalagi suaminya yang sekarang adalah anggota Kopasus. Amanda juga kaget melihat Kencana sekarang, yang sebelumnya klimis kini mulai brewokan. Ditambah lagi Kencana sudah berstatus duda sekarang.

"Beep.. beep... tring.. tring..." Kali ini suara smartphone Amanda berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 4.15 sore.

"Hai.. Amanda.. Gw jadi ketempat lu ya"..
"Okeey.. dah sampe mana sekarang?, gw mau mandi dulu nih, kita mau kemana nanti?"..
"Let see nanti ya... Gw mau liat Riverstone City, mau tau gw kayak gimana tempatnya. Kata orang bagus... Eh anyway, suami lo gak ada di Jakarta kan"
"Iya.. Bagus kok... Anyway juga.. Tenang, suami gw lagi mengawal Presiden ke Jambi.. sini cepet.."

Mobil Kencana melaju secepat truk tronton tanpa beban. Jalanan macet dari Menteng menuju Riverstone City yang berada di daerah Kebayoran dibabat perlahan-lahan. Cukup 30 menit sudah sampai ditempat.  

-- At Riverstone City, percakapan di smartphone
"Gw dah sampai lobby, lo turun kebawah donk"
"Bentar gw masih handukkan.."
"Udah gak usah pake handuk aja kebawah.."
"Dasar Porno kamu Kencana.."

Amanda turun ke lobby. Mereka berdua tampak kasmaran. Padahal tidak berjumpa hanya selama beberapa bulan, malah tatapan dan tutur kata mereka berdua seperti sudah tidak berjumpa selama tahunan. Amanda lalu mengajak Kencana menuju kamarnya di lantai 19. Riverstone City, komplek apartement ternama di Jakarta, terdiri dari beberapa blok pretisius dengan kolam renang ditengah-tengahnya. Bloknya megah, lantainya terdiri dari marmer putih seperti istana.

"Sudah berapa lama kamu disini Amanda", sambil berbasa-basi sekali lagi Kencana memulai percakapan di sofa kamar Amanda. Amanda menjawab sekena-kenanya sambil tersenyum menggoda. Padahal diotak mereka berdua sudah berkelumit kisah-kisah nafsu tak tertahankan yang terlalu berbelit-belit apabila dipikirkan. Malahan, akan sangat teramat lebih baik apabila langsung dipraktekkan.

Sebatang dua batang rokok dihabiskan mereka berdua sembari mengobrol kisah mereka di sofa ruang tamu kamar Amanda. Pintu kamar tidur ketika itu sedari tadi sudah terbuka. Setelah beberapa menit akhirnya Amanda dan Kencana memandang kamar tidur. Mereka memandang kekasur yang sama. Sudah diduga apa yang bakal terjadi. Nafsu birahi terjadi dikamar Amanda. Menggebu-gebu, terjerembab kedalam adegan frontal 18 tahun keatas. Sudah lupakan status Amanda yang bersuami dan lupakan juga status Kencana yang duda. Toh, apalah artinya, mereka sudah bersatu dalam raga sekarang ini.

"Beep... Beep.. Tring.. Tring"... Kali ini suara dering telpon dari smartphone Amanda. Sudah 3 kali berbunyi tapi tidak diangkatnya. Smartphone Amanda tergeletak dimeja dekat kasur.

Setelah bunyi 3 kali, SMS masuk di smartphone Amanda.. "Ada suara apa dikamar?, aku sudah di lantai 19 depan kamarmu, bukakan pintu, sebelum Aku dobrak tanpa ragu".

Terlihat dilayar smartphone Amanda tertanda suaminya, Kopasus. 

Tuesday, October 07, 2014

Bumi Manusia

Saya baru saja membaca buku pertama dari tetralogi buru karya penulis legendaris Indonesia yaitu almarhum Pramoedya Ananta Toer. Sudah sejak lama saya mengetahui mengenai novel ini, tapi baru beberapa hari ini akhirnya buku pertamanya yang berjudul bumi manusia selesai dibaca. Terimakasih kepada mishella yang telah meminjamkannya untuk 1 bulan :).

Pada awalnya saya kira tulisan karya Pramoedya ini tergolong berat. Karena melibatkan sejarah dan kosakata Indonesia yang baku dan tidak mudah dibaca kalimat per kalimat begitu saja. Harus mengerti terlebih dahulu apa maksudnya, baru bisa melanjutkan kehalaman lainnya. Seperti yang terjadi ketika pertama kali saya membaca karya Pramoedya yang berjudul Panggil aku Kartini saja. 2 Minggu baru aku bisa selesaikan.

Begitu membaca Bumi Manusia (1980), rupanya ini berbeda. Karena Pramoedya menggabungkan dengan unsur Fiksi. Ceritanya lebih mudah dicerna, dan begitu kita membaca, alur ceritanya mengajak pembaca memasuki nuansa tahun 1800an akhir, benar-benar dibuat larut didalamnya. Tokoh utama bumi manusia adalah Minke, ia pribumi, anak pejabat tinggi, dan berpendidikan sekolah Eropa di Surabaya. Guru favoritnya bernama Jufrow Magda Peters (Jufrow = nona dalam bahasa belanda).

Novel ini bercerita tentang pergolakan batin penulis yang menurut saya berada pada sudut pandang Pramoedya itu sendiri pada masa penjajahan kolonial Belanda. Didalam novel ini juga terdapat cerita Budaya jawa dan nenek moyangnya yang mengutamakan strata menjadi bahan pergolakan batin tersendiri bagi Minke yang dididik keterbukaan Eropa. Selain keduanya itu, Budaya Tiongkok juga dilibatkan dalam novel ini.

Tapi dibalik Budaya, menurut saya kisah utama Bumi Manusia adalah romansa antara Minke dan Annelies Mellema. Annelies anak dari Herman Mellema yang asli Belanda dengan Nyai Ontosoroh, asli pribumi. Kisah Annelies dan ibunya mempunyai ruang tersendiri di novel ini. Seru dan sangat dalam sekali karakter mereka berdua. Annelies mengaku dia pribumi meski wajahnya Indo, wajahnya cantik bahkan melebihi Sri Baginda Wilhelmina.

Cerita di Bumi Manusia berlanjut di novel selanjutnya yang berjudul Anak Semua Bangsa (1985). Tak sabar saya ingin membacanya. Mishella, cepatlah datang ke jakarta
 

   

Saturday, August 30, 2014

Happy

It has been a long time we never met…
Without you... My life is cruel, dark, harsh and hard to grind.
Without you… I’m tasting bitterness inside my lung.
Oh… I do really wish you were around… I will ask you to go deep inside my tongue to keep me awake all night long.

Oh boy… My name is coffee, I’m not happy until I meet you… yes you... milky lady*

*when coffee meet milk

MG, Street Gallery, PIM, 2014

Wednesday, August 20, 2014

Pesan di Line

Harap-harap cemas aku menunggu. Di pukul 12.20 siang ini, belum ada tanda-tanda terima balasan Line* maupun Whatsapp dari dia. Aku menunggu sejak 20 hari sejak tanggal 1 agustus lalu. Sudah berapa kian kali dalam 20 hari dia mengganti profile fotonya, mengubah status, bahkan setiap kali aku mengirim pesan melalui Line dan terpampang tanda read, toh tidak ada satupun pesanku dibalas. Jadi pasti suatu saat nanti jikalau dia beralasan, tidak mungkin dia menciptakan lagi alasan hp nya mati, apalagi pulsa tak mencukupi. Cukuplah hal-hal tersebut dijadikan alibi aku bahwa smartphone dia masih menyala.

Dia memang tidak peduli terhadapku, sesungguhnya pun dia dan akupun tahu maksud dari isi-isi pesanku. Semua ini harus jelas hingga berakhir waktu yang entah sampai berapa hari lagi. Tapi kalau sudah sampai sebulan?, 10 hari lagi?, wah bisa bahaya nanti.

Kutanya temanku yang senasib dan sepenanggungan, ada apa dengan dia. Kenapa?, temanku yang satu itupun juga tak tahu menahu.

Ah, aku mulai ragu-ragu menjalani ini semua. Sombong sekali dia tidak membalas kata-kataku di Line. Kejam benar perilakunya. Padahal tampang dia lugu, dan bahkan terlihat lucu. Tapi aku tidak akan tertipu, dia pasti menyiapkan sesuatu. Dia pasti sudah menyiapkan sejuta peluru untuk memberondongku dengan seribu satu alasan yang tak tentu.

Tapi sampai kapan?, besok sudah hari ke-21. Memangnya aku batu yang tidak bisa berhaha-huhu. Haha ketika tertawa, dan huhu ketika sedih memikirkanmu, iya kamu yang membaca tulisan ini.

Kusiapkan 2 (dua) skenario jikalau hal-hal yang tidak diinginkan itu benar-benar terjadi. Skenario itu representasi dari gambar unyu di Line. Toh dia pasti tidak berani membalas dengan kata-kata pesan. Skenario pertama adalah apabila dia mengirimkan gambar emoticon beruang dengan sayap dibelakang seperti malaikat, artinya, dia ingin pergi meninggalkanku menuju langit ketujuh. Kuterjemahkan sebagai, memang dia sudah mati, mungkin terbakar dahulu, baru menjadi abu. Aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk hal ini, karena toh berarti dia sudah kabur dan tak akan kembali.

Kedua, emoticon beruang berciuman dengan kelinci, yang artinya dia sudah bersama idaman lainnya. Ini pertanda, aku harus mencari kelinci lainnya, pergi jauh dari dia dan aku tidak perlu mengharapkannya lagi.

Apa susahnya menjawab?, dasar dia memang dasarnya tidak bertanggung jawab.

Padahal isi pesanku di Line selama 20 hari ini cukup sederhana. Cukup satu kalimat dengan tanda tanya,  "Bos, kapan gajian bulan lalu dikirim bos?"

Mungkin perusahaan tempatku bekerja saat ini sudah bangkrut dan mengkerut


Note:
*Line adalah aplikasi chating menggunakan smartphone, bisa mengirim pesan dan juga gambar-gambar (emoticon) lucu berbentuk beruang dan kelinci. 

Morning Glory Coffee

Seberapa sering menuju tempat ini?. Hmm.. beberapa kali dan melebihi 1/15 dan djournal coffee. Lokasi yang strategis berada di street gallery Pondok Indah Mall (PIM), membuat ku sering mengunjungi morning glory coffee. Ditambah lagi PIM merupakan mall favoritku, jadi faktor plus buat morning glory. Dalam #JakartaCoffeeBlendJourney ini, aku ingin bercerita tentang Morning Glory coffee. Kedai kopi ini sudah lama sebenernya berdiri. Dimulai dari Bandung, seingatku pertama kali melihat sign Morning Glory itu di setiabudi, sebelahnya McD, ketika itu sekitar tahun 2006 aku mau mengunjungi tempat fitness yang bernama Equinox (sayang sekali udah tutup skrg, padahal gw ketemu tamara blezinski disana, hahah) yang berada dilantai 2. Di lantai satunya terdapat kedai kopi yang bernama Morning Glory ini. Tapi pada waktu itu aku tidak sempat masuk kedalam, hanya melihat-lihat dari luar.

Tidak berapa lama, setelah tol di cipularang dibuat sekitar tahun 2006, yang menghubungkan jakarta bandung. Morning Glory mulai membuka cabang di KM 97. Aku sering kesitu, menikmati sejumput coffee latte disertai sarapan paginya omellete. Pelayanannya biasa saja, tapi pemandangannya di KM 97 yang mempesona. Karena menghadap taman, dan kita bisa menghirup udara segar.

Di tahun ini, setelah kembali dari Bangkok, ternyata aku menemukan lagi Morning Glory. Kali ini dia sudah buka cabang di PIM, ini berarti untuk pertama kalinya Morning Glory buka cabang di luar Bandung. Sebelumnya dia sudah ada di ruko setrasari, Bandung dekat dengan Universitas Maranatha begitu keluar gate Pasteur. Dan satu lagi seperti cerita saya sebelumnya ada di Setiabudi, tapi sayangnya sudah ditutup untuk cabang sini  Display kedai kopi Morning Glory kini sudah seperti cafe, terlihat trendy dan keren. Karena belakangan ini aku mulai menggemari kopi, awal aku ke Morning Glory PIM kuajukan pertanyaan mengenai jenis kopi apa yang dipakai disana. Ternyata mereka menggunakan kopi asal pengalengan, Jawa Barat. Pengalengan yang notebene penghasil susu berkualitas, ternyata mempunyai kopi berkualitas juga. Ini dibuktikan dengan rasa kopinya yang menurutku mid taste, karena rasa asam dan pahit nya tidak terlalu dalam. Sehingga bisa dinikmati semua orang.

Selain itu kalau kita duduk dikursi Morning Glory coffee di PIM, kita akan berhadapan dengan toko roti Tous les jours, dimana banyak pria dan wanita yang tampilannya oke punya duduk disana. Dan so pasti tidak semuanya pecinta kopi, tapi kan lumayan buat cuci mata, hahaha...